Posts Tagged hukum islam

Bayi tabung : kemajuan teknologi ataukah kemunduran moralitas?

Jun 10th, 2012 Posted in Etika Profesi dan Bisnis | no comment »

Bismillahirrahmanirrahim

Sepasang manusia yang memutuskan melanjutkan hubungan mereka ketingkat yang lebih serius yaitu ke jenjang pernikahan, pastilah sudah memutuskan banyak hal besar dalam hidup mereka. Bukan hanya itu, angan-angan tentang hidup yang lebih baik dan menghasilkan keturunan yang lebih baik pun pasti sudah terbangun dalam ladang imajinasi mereka.

Alangkah bahagianya apabila hadir seorang anak yang melengkapi kehidupan rumah tangga. Namun, ada juga pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun menikah namun tak kunjung mempunyai anak. Hal ini seringkali menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga, baik berupa keresahan dan kegelisahan dari kedua pihak ataupun malah terjadi pertengkaran.

Seiring perkembangan jaman, teknologi semakin canggih dan mengambil ruang dalam penyelesaian masalah di kehidupan kita. Muncullah solusi berupa pembuatan bayi tabung bagi mereka yang tidak mampu memiliki anak dengan cara alami.

Bayi tabung dikenal dengan istilah pembuahan in vitro atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai in vitro fertilisation. Ini adalah sebuah teknik pembuahan sel telur (ovum) di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair. (sumber)

Sebagai seorang Muslimah, saya akan mencoba memberikan sudut pandang saya terkait masalah bayi tabung ini sesuai dengan ajaran agama Islam. Menurut saya Islam sudah sangat tegas memberikan batas-batas serta adab dalam setiap aspek kehidupan manusia termasuk dalam kehidupan rumah tangga/hubungan suami istri.

Teknologi yang dikembangkan akhir-akhir ini terbagi dari beberapa cara, yaitu:

1. Sperma seorang suami diambil lalu diinjeksikan pada tempat yang sesuai dalam rahim sang istri sehingga sperma itu akan bertemu dengan sel telur yang dipancarkan sang istri dan berproses dengan cara yang alami sebagaimana dalam hubungan suami istri.

2. Sperma seorang suami dan sel telur istrinya, diambil lalu diletakkan pada sebuah tabung sehingga sperma tadi bisa membuahi sel telur istrinya dalam tabung tersebut. Kemudian pada saat yang tepat, sperma dan sel telur yang sudah berproses itu (zigote) dipindahkan ke rahim sang istri, pemilik sel telur, supaya bisa berkembang sebagaimana layaknya janin-janin yang lain.

Pada dua cara yang diperbolehkan ini, majelis Majma’ul Fiqh al Islami menetapkan bahwa nasab si anak dihubungkan ke pasangan suami istri pemilik sperma dan sel telur, kemudian diikuti dengan hak waris serta hak-hak lainnya sebagaimana pada penetapan nasab. Ketika nasab ditetapkan pada pasangan suami istri, maka hak waris serta hak-hak lainnya juga ditetapkan antara si anak dengan orang yang memiliki hubungan nasab dengannya. (sumber)

Selain cara diatas dapat dikatakan bahwa proses tersebut haram. Dalil yang menguatkan yaitu

“Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).

Saya bersyukur di Indonesia hal ini ditetapkan sebagai hal yang mubah (boleh) dengan ketentuan yang mirip dengan cara no 1 dan no 2 diatas. Namun di beberapa negara bagian di Amerika, tidak seperti itu. Siapapun yang menurut mereka berhak dan pantas memiliki bayi tabung akan mendapatkannya. Tidak ada ketentuan atau syarat tertentu yang begitu mengikat. Bahkan ada beberapa pria yang menebar benihnya melalui bank-bank sperma didaerah tersebut. Siapa saja bisa menggunakan sperma tersebut. Bayangkan apabila sperma tersebut berhasil menjadi seorang bayi namun dari rahim wanita  berbeda yang tidak terikat pernikahan dengan laki-laki tersebut. Hal ini sama saja dengan prostitusi secara halus. Belum lagi apabila bayi-bayi tabung tersebut tumbuh dewasa dan sialnya jika calon suami atau istrinya merupakan bayi tabung dari benih yang sama. Sama artinya menikahi saudara sendiri bukan?

Kasus lain yang tidak kalah kontroversial adalah seorang wanita lajang yang melahirkan 14 bayi tabung tanpa suami. Setiap tahun bisa dikatakan ia melahirkan satu bayi tabung dan terakhir kali janin yang ia kandung membelah menjadi dua sehingga menghasilkan 8 bayi kembar dan salah satunya mengalami down syndrom. Yang lebih disayangkan lagi ia bahkan tidak bekerja dan hanya mengandalkan donatur untuk menghidupi ke 14 bayinya.

Begitulah teknologi memang memudahkan  dan semakin memudahkan kehidupan kita. Tetapi alangkah bijak apabila kita tetap menilik sisi moril dari keuntungan tersebut. Jangan sampai kemajuan teknologi justru menyebabkan kemunduran moral besar-besaran di atas muka bumi. Teknologi layaknya dua mata uang yang mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Alangkah bijak apabila kecanggihan tersebut kita barengi dengan kejernihan hati. Agar setiap usaha memajukan teknologi atas nama kemudahan tetap menjadikan kita manusia cerdas yang bermartabat.