Archive for the Etika Profesi dan Bisnis Category

My Happy Planet

Jun 10th, 2012 Posted in Etika Profesi dan Bisnis | no comment »

Wow, menurut penelitian dari HPI (Happy Planet Index), Indonesia termasuk 20 besar negara yang Happy-happy aja. Menakjubkan bahwa negara seperti Jepang yang notabene lebih maju justru lebih tidak bahagia dari negara ini. Mungkin karena di Indonesia ada artis yang namanya Happy Salma kali ya? Hehehe.

Menurut saya, pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah. Masyarakat Indonesia memang terkenal sangat ramah dan suka guyon. Selain itu juga ada pepatah atau falsafah Jawa yang mengatakan bahwa hidup haruslah legawa alias ikhlas menjalaninya.

Jika dilihat dari segi geografis mungkin tingkat ke-happy-an masyarakat Indonesia masih bisa di kotak-kotakkan lagi. Jika dibandingkan dengan daerah lain, daerah metropolitan seperti Jakarta dan Bandung mungkin tingkat ke-happy-annya berbeda dengan daerah lain. Kota-kota besar umumnya memiliki tingkat stress yang tinggi selain itu polusi dan masalah tata kota juga semakin memburuk seiring meningkatnya jumlah penduduk.

Berbeda dengan kehidupan di desa yang rata-rata masih menjunjung tinggi kebiasaan gotong royong sehingga interaksi antar warga masih tinggi intensitasnya. Tidak ada tergesa-gesa menuju kantor pukul setengah tujuh untuk menghindari macet ataupun terjebak berjam-jam dijalan tol. Mereka umumnya lebih enjoy dengan keadaan mereka. Karena kota-kota metropolitan seperti Jakarta hanya ada satu di Indonesia mungkin itulah yang menyebabkan masyarakat Indonesia terlihat bahagia-bahagia saja. Korupsi, kolusi dan nepotisme pun konsentrasi terbesarnya ada di Jakarta.

Semoga dari desa-desa ataupun kota-kota lain tetap bisa happy sehingga menghasilkan generasi muda yang lebih baik. Untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih happy.

Bayi tabung : kemajuan teknologi ataukah kemunduran moralitas?

Jun 10th, 2012 Posted in Etika Profesi dan Bisnis | no comment »

Bismillahirrahmanirrahim

Sepasang manusia yang memutuskan melanjutkan hubungan mereka ketingkat yang lebih serius yaitu ke jenjang pernikahan, pastilah sudah memutuskan banyak hal besar dalam hidup mereka. Bukan hanya itu, angan-angan tentang hidup yang lebih baik dan menghasilkan keturunan yang lebih baik pun pasti sudah terbangun dalam ladang imajinasi mereka.

Alangkah bahagianya apabila hadir seorang anak yang melengkapi kehidupan rumah tangga. Namun, ada juga pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun menikah namun tak kunjung mempunyai anak. Hal ini seringkali menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga, baik berupa keresahan dan kegelisahan dari kedua pihak ataupun malah terjadi pertengkaran.

Seiring perkembangan jaman, teknologi semakin canggih dan mengambil ruang dalam penyelesaian masalah di kehidupan kita. Muncullah solusi berupa pembuatan bayi tabung bagi mereka yang tidak mampu memiliki anak dengan cara alami.

Bayi tabung dikenal dengan istilah pembuahan in vitro atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai in vitro fertilisation. Ini adalah sebuah teknik pembuahan sel telur (ovum) di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair. (sumber)

Sebagai seorang Muslimah, saya akan mencoba memberikan sudut pandang saya terkait masalah bayi tabung ini sesuai dengan ajaran agama Islam. Menurut saya Islam sudah sangat tegas memberikan batas-batas serta adab dalam setiap aspek kehidupan manusia termasuk dalam kehidupan rumah tangga/hubungan suami istri.

Teknologi yang dikembangkan akhir-akhir ini terbagi dari beberapa cara, yaitu:

1. Sperma seorang suami diambil lalu diinjeksikan pada tempat yang sesuai dalam rahim sang istri sehingga sperma itu akan bertemu dengan sel telur yang dipancarkan sang istri dan berproses dengan cara yang alami sebagaimana dalam hubungan suami istri.

2. Sperma seorang suami dan sel telur istrinya, diambil lalu diletakkan pada sebuah tabung sehingga sperma tadi bisa membuahi sel telur istrinya dalam tabung tersebut. Kemudian pada saat yang tepat, sperma dan sel telur yang sudah berproses itu (zigote) dipindahkan ke rahim sang istri, pemilik sel telur, supaya bisa berkembang sebagaimana layaknya janin-janin yang lain.

Pada dua cara yang diperbolehkan ini, majelis Majma’ul Fiqh al Islami menetapkan bahwa nasab si anak dihubungkan ke pasangan suami istri pemilik sperma dan sel telur, kemudian diikuti dengan hak waris serta hak-hak lainnya sebagaimana pada penetapan nasab. Ketika nasab ditetapkan pada pasangan suami istri, maka hak waris serta hak-hak lainnya juga ditetapkan antara si anak dengan orang yang memiliki hubungan nasab dengannya. (sumber)

Selain cara diatas dapat dikatakan bahwa proses tersebut haram. Dalil yang menguatkan yaitu

“Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).

Saya bersyukur di Indonesia hal ini ditetapkan sebagai hal yang mubah (boleh) dengan ketentuan yang mirip dengan cara no 1 dan no 2 diatas. Namun di beberapa negara bagian di Amerika, tidak seperti itu. Siapapun yang menurut mereka berhak dan pantas memiliki bayi tabung akan mendapatkannya. Tidak ada ketentuan atau syarat tertentu yang begitu mengikat. Bahkan ada beberapa pria yang menebar benihnya melalui bank-bank sperma didaerah tersebut. Siapa saja bisa menggunakan sperma tersebut. Bayangkan apabila sperma tersebut berhasil menjadi seorang bayi namun dari rahim wanita  berbeda yang tidak terikat pernikahan dengan laki-laki tersebut. Hal ini sama saja dengan prostitusi secara halus. Belum lagi apabila bayi-bayi tabung tersebut tumbuh dewasa dan sialnya jika calon suami atau istrinya merupakan bayi tabung dari benih yang sama. Sama artinya menikahi saudara sendiri bukan?

Kasus lain yang tidak kalah kontroversial adalah seorang wanita lajang yang melahirkan 14 bayi tabung tanpa suami. Setiap tahun bisa dikatakan ia melahirkan satu bayi tabung dan terakhir kali janin yang ia kandung membelah menjadi dua sehingga menghasilkan 8 bayi kembar dan salah satunya mengalami down syndrom. Yang lebih disayangkan lagi ia bahkan tidak bekerja dan hanya mengandalkan donatur untuk menghidupi ke 14 bayinya.

Begitulah teknologi memang memudahkan  dan semakin memudahkan kehidupan kita. Tetapi alangkah bijak apabila kita tetap menilik sisi moril dari keuntungan tersebut. Jangan sampai kemajuan teknologi justru menyebabkan kemunduran moral besar-besaran di atas muka bumi. Teknologi layaknya dua mata uang yang mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Alangkah bijak apabila kecanggihan tersebut kita barengi dengan kejernihan hati. Agar setiap usaha memajukan teknologi atas nama kemudahan tetap menjadikan kita manusia cerdas yang bermartabat.

Konten bajakan; antara kebutuhan dan moral

Mar 3rd, 2012 Posted in Etika Profesi dan Bisnis | 4 comments »

Never mind
I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
“Don’t forget me,” I begged
“I’ll remember,” you said
“Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead.”
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead,
Yeah.

Lirik ini terngiang-ngiang ditelinga saya sepanjang hari, penasaran dengan penyanyi nya saya pun mencoba mencari informasi dari internet. Benar, pertanyaan saya terjawab, penyanyi dari lagu ini adalah Adele Laurie Blue Adkins, penyanyi asal Inggris yang baru baru ini berhasil membawa pulang sederet penghargaan dari ajang musik bergengsi Grammy Awards. Memang sih, dari segi lirik tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi, namun lagu ini terdengar enak ditelinga sehingga saya sering melantunkannya penuh ekspresi hehehe.

Saya pun berniat mendownload mp3-nya dari internet, tentu saja banyak sekali website-website yang menyediakan lagu-lagu gratis untuk didownload. Hmm, sebuah pertanyaan menggelitik pun terngiang-ngiang di telinga:

“Apakah etis bila saya men-download lagu ini dengan gratis? Sementara sang pencipta sudah bekerja keras menciptakan lirik yang indah, penyanyinya pun berusaha keras agar suara merdunya klop dengan lirik yang akan dinyanyikan. Ini kan juga menyangkut hak cipta? Apakah tidak lebih baik saya membeli kaset atau cd yang asli saja? Dengan begitu kerja keras mereka tidak sia-sia kan? Ah, tapi cd asli  kan mahal? Belum tentu juga saya suka semua lagunya, kalau ternyata hanya lagu ini saja yang bagus, rugi dong?”

Pasti sebagian besar dari kita pernah mengalami de javu seperti diatas, bertanya sendiri — menjawab sendiri. Cling! Saya pun berinisiatif untuk bertanya pada Mbah Google mengenai kegundah-gulanaan yang sedang saya alami ini (halah!). Usut punya usut ternyata Indonesia memang termasuk negara yang memegang rekor untuk kasus pelanggaran dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual (atau HAKI).

Sumber yang saya baca menyebutkan laju trafik pengunduhan musik ilegal oleh pengguna internet Indonesia bisa mencapai 9000 unduhan per detik. Bila dihitung-hitung, tak kurang dari 250 juta musik bajakan diunduh oleh pengguna internet Indonesia setiap bulan. Akibatnya, potensi kerugian yang sangat besar terjadi di industri musik. Tak kurang dari 12 triliun melayang setiap tahun akibat konten-konten musik digital yang tak berhak cipta di internet.

Waduh! (*tepok jidat)

Gawat, ternyata hal sepele seperti mengunduh satu buah lagu saja bisa berkontribusi pada kerugian sebesar itu. Bayangkan jika setiap hari kita mengunduh lagu yang berbeda-beda dan berlangsung hingga berbulan-bulan lamanya. Bisakah itu disebut -maaf- mencuri??

Ya, tentu saja bisa.

Undang-undang telah mengatur tentang hal ini. Sesuai Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik No 11 tahun 2008, seseorang yang dengan sengaja dan tanpa hak mentransfer file musik bajakan terancam pidana penjara maksimal 9 tahun atau denda maksimal Rp 3 miliar.

Sementara menurut Undang-Undang Hak Cipta No 19 tahun 2002, seseorang yang melanggar hak cipta, terancam hukuman penjara maksimal 7 tahun atau denda Rp 5 miliar.

Namun, disisi lain, banyak orang tidak menyadari hal ini -bahkan saya sendiri-. Konten-konten tersebut mereka unduh dengan alasan kebutuhan, lalu, apakah kebutuhan mengalahkan hati nurani? Sebesar apasih kebutuhan akan lagu? film?

Daripada tulisan ini semakin panjang, pada akhirnya saya akan menarik kesimpulan bahwa :

1. Sebagai warga negara yang baik, kita mempunyai tanggung jawab moral untuk menghargai karya-karya anak bangsa pada khususnya dan karya setiap manusia pada umumnya.

2. Saya tidak jadi mendownload lagu Someone Like you – nya Adelle, karena saya tidak merasa begitu membutuhkan konten ini (*baru nyadar *doeng!), saya lebih butuh oksigen, mengerti saudara-saudara? 😀 Ohya, lagu ini bisa didengarkan melalui stasiun-stasiun ter-Oke di kota anda (*kembalikan budaya mendengarkan radio)

3. Sebaiknya, mari kita kurangi mengunduh konten-konten yang ilegal, jika membeli jendela (baca: Windows) dirasa terlalu mahal, ada baiknya beralih ke perangkat lunak Open Source dimana konten ini memang benar-benar gratis dan penciptanya tidak keberatan. Selain itu teman-teman bisa menggunakan iTunes untuk mengunduh lagu-lagu terbaru jika ingin.

4. Jangan berbagi konten digital ataupun bukan digital yang bajakan, kecuali kalau anda saudara sepupunya Gayus, jadi bisa mbayar denda yang sekian miliar, hehehe.

4. Dan, kesimpulan terakhir, saya rasa memang tidak etis bila saya mencuri konten-konten bajakan ini, memang tidak ada yang mengawasi atau istilahnya tidak ada polisi dunia maya, tapi jika direnungkan memang lebih baik saya mendengarkan radio saja karena tidak sanggup membeli CD yang asli (*menyedihkan *minta tissue bisa? *terimakasih tissue-nya) T^T

Terimakasih sudah membaca! 🙂

Sejumput cinta untuk sesama

Feb 29th, 2012 Posted in Etika Profesi dan Bisnis | 2 comments »

Sudahkah kita memberi manfaat pada sesama hari ini?

Pekerjaan, profesi adalah amanah besar dan mulia yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab dan rasa cinta. Sejenak saya berfikir tentang, bagaimana semua orang yang sudah bekerja mampu mencintai pekerjaan mereka karena dua hal; kecintaan terhadap diri sendiri dan kecintaan terhadap sesama. Apakah para pejabat, hakim, pegawai pajak, wartawan hingga tukang sampah mencintai pekerjaan mereka karena dua hal tersebut sekaligus?

Tanpa mendiskreditkan satu pun dari mereka, saya pun bertanya-tanya; manakah yang lebih mulia-pegawai pajak atau tukang sampah?

Mereka semua mulia. Ya. Menjadi pegawai pajak mengemban kepercayaan formal dari masyarakat. Bagaimana mereka mengolah pajak dengan jujur dan sebagaimana mestinya. Tentunya terlepas dari semua berita korupsi yang sedang santer diberitakan saat ini. Bukan, saya percaya semua pekerjaan mulia-lebih mulia lagi jika bisa memberi manfaat kepada sesama. Contoh langsung dan lugas serta sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari yaitu tukang sampah-pemulung.

Bicara tentang pemulung, mereka begitu sering dianggap rendah dan dipandang jijik oleh sebagian orang atau mungkin kita sendiri. Tidakkah kita menyadari, entah secara langsung atau tidak, mereka memberi manfaat besar bagi kehidupan kita. Sikap apatis yang sering kita tunjukkan ketika harus memilah-milah dan mengolah sampah, patutnya kita hilangkan. Para pemulung begitu mencintai pekerjaannya, bekerja keras di tempat bau dan kotor seharian demi sesuap nasi. “Yang penting halal, mas, mbak” itulah cermin dari kepolosan mereka ketika ditanya mengapa harus menjadi pemulung.

Mulia, ya mereka mengerjakan pekerjaan yang begitu mulia. Tak hanya bagi keluarga tapi juga bagi sesama.Sampah-sampah yang sangat sulit diolah dan didaur ulang seperti plastik dan botol minuman, justru mereka kumpulkan untuk dijual kembali dengan harga tak seberapa. Padahal jika plastik dan botol minuman dibiarkan mengotori lingkungan alangkah bau dan susah bagi tanah untuk menghancurkannya. Apalagi bagi beberapa kelompok masyarakat yang suka membakar sampah plastik, bayangkan polusi udara yang ditimbulkannya.

Kesimpulannya adalah, semua profesi itu mulia, terlepas dari jabatan yang melekat di seragam, banyaknya bintang tanda kebesaran atau pun sertifikat yang terpajang. Alangkah indah apabila nantinya profesi yang kita tekuni sanggup memberi manfaat luar biasa, bagi kita, bagi sesama, dan bagi dunia 🙂