Sejumput cinta untuk sesama

Sudahkah kita memberi manfaat pada sesama hari ini?

Pekerjaan, profesi adalah amanah besar dan mulia yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab dan rasa cinta. Sejenak saya berfikir tentang, bagaimana semua orang yang sudah bekerja mampu mencintai pekerjaan mereka karena dua hal; kecintaan terhadap diri sendiri dan kecintaan terhadap sesama. Apakah para pejabat, hakim, pegawai pajak, wartawan hingga tukang sampah mencintai pekerjaan mereka karena dua hal tersebut sekaligus?

Tanpa mendiskreditkan satu pun dari mereka, saya pun bertanya-tanya; manakah yang lebih mulia-pegawai pajak atau tukang sampah?

Mereka semua mulia. Ya. Menjadi pegawai pajak mengemban kepercayaan formal dari masyarakat. Bagaimana mereka mengolah pajak dengan jujur dan sebagaimana mestinya. Tentunya terlepas dari semua berita korupsi yang sedang santer diberitakan saat ini. Bukan, saya percaya semua pekerjaan mulia-lebih mulia lagi jika bisa memberi manfaat kepada sesama. Contoh langsung dan lugas serta sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari yaitu tukang sampah-pemulung.

Bicara tentang pemulung, mereka begitu sering dianggap rendah dan dipandang jijik oleh sebagian orang atau mungkin kita sendiri. Tidakkah kita menyadari, entah secara langsung atau tidak, mereka memberi manfaat besar bagi kehidupan kita. Sikap apatis yang sering kita tunjukkan ketika harus memilah-milah dan mengolah sampah, patutnya kita hilangkan. Para pemulung begitu mencintai pekerjaannya, bekerja keras di tempat bau dan kotor seharian demi sesuap nasi. “Yang penting halal, mas, mbak” itulah cermin dari kepolosan mereka ketika ditanya mengapa harus menjadi pemulung.

Mulia, ya mereka mengerjakan pekerjaan yang begitu mulia. Tak hanya bagi keluarga tapi juga bagi sesama.Sampah-sampah yang sangat sulit diolah dan didaur ulang seperti plastik dan botol minuman, justru mereka kumpulkan untuk dijual kembali dengan harga tak seberapa. Padahal jika plastik dan botol minuman dibiarkan mengotori lingkungan alangkah bau dan susah bagi tanah untuk menghancurkannya. Apalagi bagi beberapa kelompok masyarakat yang suka membakar sampah plastik, bayangkan polusi udara yang ditimbulkannya.

Kesimpulannya adalah, semua profesi itu mulia, terlepas dari jabatan yang melekat di seragam, banyaknya bintang tanda kebesaran atau pun sertifikat yang terpajang. Alangkah indah apabila nantinya profesi yang kita tekuni sanggup memberi manfaat luar biasa, bagi kita, bagi sesama, dan bagi dunia 🙂

This entry was posted on Wednesday, February 29th, 2012 at 10:17 am and is filed under Etika Profesi dan Bisnis. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Sejumput cinta untuk sesama”

  1. yasinkun says:

    nice post,i think we must respect for all of the job that people get it.

  2. ARY KUSUMA NINGSIH says:

    I do agree 😉

Leave a Reply